ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > AHLI TASAUF > Tokoh utama dalam ilmuTasauf >  Sahl Bin Abdullah al Tustari

 
 
 
 
 
 
 
 

 Sahl Bin Abdullah al Tustari

SAHL BIN ABDULLAH AL TUSTARI (203-273 atau 283 H)
Sufi
 
     Seorang sufi yang pertama kali menulis tafsir Al Qur’an dalam pandangan tasauf. Ia juga merupakan peletak dasar ajaran madzhab tasauf Salimiyah. Setidaknya ada 2 kontribusi Sahl yang paling orsinil yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran sufi berikutnya yaitu teorinya mengenai perjanjian prakeabadian (mitsaq) dan Nur Muhammadiyah.
    Nama Abu Muhammad Sahl ibn Abdullah ibn yunus ibn Isa ibn Abdullah al Tustari. Lahir di Tustar dan hidupnya lebih banyak tinggal di Ahwaz dan Arrajan. Ia kemudian tinggal di Bashrah, setelah perjalanannya ke Mekah pada usia 16 tahun (219 H) yang didampingi oleh muhadits Muhammad ibn Sawwar. Ia tinggal untuk satu periode dan belajar kepada Zhun Nun al Misri, seorang sufi besar (spesialis pertama dalam mistisme Islam). Ia meninggal di tempat uzlahnya di kota Bashrah.
     Sahl mempunyai banyak murid, diantaranya: Al Hallaj (sufi terkenal); Barnahary (w. 329 H); Akary (yang kelak menjadi Hambalit Baghdad); Jurayri (w. 313 H), yang kelak menjadi pengganti Junaid; Muhammad Umar bin Wasil Anbari Basri, yang dibunuh di Habir; Abu Ya’kub Susi (yang kelak ke Mekah); Ibn Munzhir Hujami, dan lain-lain.
     Sahl tidak menulis risalahnya sendiri, tetapi ucapan-ucapannya dan ajaran-ajarannya dikumpulkan dan dikodifikasi oleh pengikutnya, Muhammad ibn Salim (w. 297 H / 909 M) dan menjadi aturan aliran teologi Salimiyah, yang kemudian dipimpin Abu’l Hasan Abdullah bin Muhammad ibn Salim (w. 350 H), Ibn al Jalla, Abu Thalib Makki (w. 380H) dan Ibn jahdam (w. 414 H).
    Pengaruh Sahl pada tulisn-tulisan sufi berikutnya sangatlah besar. Sahl dihargai karena dialah yang pertama kali mengungkapkan sejumlah tema pokok sufi, seperti perjanjian prakeabadian antara manusi dan Tuhan, tiang cahaya Muhammadiyah yang abadi, pandangan bahwa hanya Tuhan yang berhak mengatakan “Aku”, dan gagasan bahwa setan pada akhirnya akan diampuni. Ia banyak terpengaruh oleh gurunya (Zhin Nun) dan iapun kemudian memiliki pengaruh yang kuat pada figur-figur kunci, seperti Junaid, Al Hallaj dan Muhammad ibn Salim.
     Pemikirannya meskipun sangat berakar kepda Al Qur’an dan syari’at, tetap memancing kritik dari intelektual semasanya.
 
Pemikiran
    Sahl sama sekali tidak memiliki kesempurnaan instrospektif maupun kekayaan imajinasi seperti sang guru (Zhunun al Mishri). Ia tidak lebih hanyalah seorang asketik dengan keimanan penuh serta dialektika aktif, yang muncul untuk mengharmonisasikan pengalaman-pengalaman mistik dengan sumber sistematis ortodoksi suni.
     Ciri-ciri aliran (madzhab) tasauf yang ia dirikan (yang kelak bernama Salimiyah): berbakti pada negara, mengkaji ayat-ayat Al Qur’an (dari sini ia membuat tafsir Al Qur’an pertama dalam tinjauan tasauf, yang kelak dikritik oleh Imam Asy Syatibi dalam kitabnya Muwafaqat)
     Dalam menghormati rasul, ia menganjurkan konsepsi azali, Muhammad merupakan makhluk yang pertama kali diciptakan, sebagai cahaya (Nur) dalam pilar cahaya primordial (‘Amud al Nur), sebagai tubuh dari cinta sejati tempat Tuhan menciptakan partikel demi partikel semua makhluk.
    Puncak dari keimanan murni, yang tanpa unsur tambahan dari luar, serta karena adanya inti yang tak terciptakan (yaqin) memungkinkan bagi orang-orang yang beriman menganut esensi ketuhanan, apabila ia terus menerus mengingat dengan do’a lisan (dzikir: yang kejelasannya berakhir dengan melarutkannya ke dalam hati); Tuhan adalah penopang.
     Kekuatan militan dan disiplin hadir kembali dalam 3 aspek bentuk kehidupan Sahl: kekuatan asketik, ijtihad, dirasakan, lebih-lebih bukan sebuah ide murni manusiawi atau pengaruh murni tuhan, tetapi sebagai perolehan murni, ikhtisab, yang dianugrahkan oleh Tuhan yang meniru praktek (sunnah) Rasul.
     Ia secara lebih khusus selalu puasa secara ketat, meyakinkan bahwa hal itu membawa anugrah keajaiban. Selanjutnya, perlunya selalu menghadirkan Tuhan melalui pertobatan diri (taubah). Ia mengajarkan bahwa pengakuan akan ketidakberdayaan diri, peniadaan diri (tabarri ‘an al Hawl wa’l quwah) merupakan kewajiban syariat (fard) bagi setiap muslim. Dari sini muncul aspek terakhir yang oleh Sahl hanya digambarkan sebagai berikut: penyangkalan penuh terhadap ruh diri, peniadan diri terus menerus yang meniadakan. Menurut terminologi Sahl “pretensi pada cinta ilahi” tidak dapat mencegah Tuhan dari intervensi langsung ketika ia menghendaki, dan dalam pribadi, di dalam jiwa yang fana , dengan demikian menyingkapkan apa yang olehnya disebut Rahasia kemaha kekuasan ilahi (Sirr al rububiyah), sang “Aku” yang berdaulat; yang demikian menafikan segala penghubung para nabi, para ilmuwan dan para hakim, menjadikan jiwa sebagai bukti Tuhan (hujjatullah) dihadapan makhluk-makhluknya dan bahkan juga dihadapan orang-orang suci (dua tesis terakhir ini banyak dihujat, tidak hanya oleh kalangan mu’tazilah, tetapi oleh 3 tokoh Hambali dari bashrah dan Ahwaz : Zakaria Saji (217-307 H), Zanbayr Zubayri (221-317 H) dan Ibn Abi Awfa’. Menyebabkan Sahl diasingkan ke Bashrah).
 
Karya
  • Tafsir al Qur’an al ‘Azm (Tafsir al Qur’an yang Agung), suatu kitab tafsir Al Qur’an bercorak sufi.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda