ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Tokoh Pembaharuan awal >  Ahmad Hasan

 
 
 
 
 
 
 
 

 Ahmad Hasan

 

AHMAD HASAN (1887-1962 M)
Mufasir, ahli kritik hadits
 
     Seorang pemikir yang menjadi inspirator banyak tokoh di Indonesia. Ia merupakan seorang pembawa pembaharuan, tokoh purifikasi Islam di Indonesia, dan seorang yang sangat berpengaruh di organisasi Persis (persatuan Islam). Ia terkenal sebagai ahli dalam berpolemik masalah keagamaan dan juga seorang penulis produktif. Dan keseriusannya dalam memperdalam ilmu pengetahuan, ia mampu melahirkan karya Tafsir Al Furqan.
   Ia lahir di Singapura, berasal dari keluarga campuran. Ayahnya, Ahmad, berasal dari India, dan bergelar pandit, adalah seorang penulis dan kesusastraan Tamil yang juga ahli tentang ilmu-ilmu keislaman. Ia (ayahnya) juga pernah menjadi redaktur majalah Nurul Islam di Singapura. Ibunya, Muznah, berasal dari Palekat, Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ayahnya suka berdebat dalam masalah bahasa dan agama, serta mengadakan tanya jawab dalam surat kabarnya.
     Sekolah dasarnya tidak selesai. Pada usia 12 tahun ia telah aktif bekerja di Toko sambil belajar, terutama dalam pelajaran bahasa Arab dan agama. Diantaranya guru-gurunya, antara lain: H. Ahmad di bukit Tiung; Muhammad Thaib, seorang guru terkenal di Mintoroad; Sa’id Abdullah al Musavi (3 tahun); Abdul latif, seorang guru terkenal di Malaya dn Singapura; Syaikh Ibrahim dan lain-lain.
     Sejak muda ia sudah mengenal bacaan-bacaan yang diterbitkan kalangan modernis, antara lain: Al Imam yang terbit di Singapura; Al Munir yang terbit di padang; Al manar yang diterbitkan oleh Rasyid Ridla di Mesir, meskipun ia belum banyak memahami isinya.
    Antara tahun 1910 sampai dengan 1921, ia melakukan berbagai pekerjaan di Singapura, seperti menjadi guru, pedagang tekstil, menjadi agen untuk distribusi es, juru tulis di kantor jama’ah haji, dan menjadi redaksi di majalah Utusan Melayu. Pada tahun 1921, ia pindah ke Surabaya untuk memulai menjadi pengusaha tekstil yang telah dirintis pamannya, H. Abdul Latief. Di Surabaya ini ia berkenalan dengan tokoh-tokoh pembawa ide pembaharuan, diantaranya Faqih Hasyim, yang sangat mempengaruhi pemikirannya.
     Tahun 1924 ia pergi ke bandung dengan maksud untuk belajar di sekolah pertenunan. Disini ia berkenalan dengan H. Muhammad Yunus, salah seorang pendiri Persis (Persatuan Islam). Akhirnya ia memilih tinggal di Bandung dan meninggalkan dunia bisnisnya. Disinilah seluruh tenaga dan pikirannya dicurahkan untuk da’wah, bahkan ia kemudian semakin intensif melahirkan karya tulis, sehingga kemudian terkenal dengan nama Hasan Bandung.
     Pada tahu 1940 M, ia pindah ke Bangil, Jawa Timur. Disini ia mendirikan Pesantren Persis dan ia sendiri sebagai pengasuhnya, sampai ia meninggal pada 10 November 1958 di Bangil. Segala kegiatannya diteruskan oleh anaknya, Abdul Qodir Hasan.
 
Karya
  •    Tafsir al Furqan, tejemahan Al Qur’an.
  •  Terjemahan Bulughul Maram, dalam bidang hadits, dan merupakan terjemahan kitab Bulughul Maram karya Ibn Hajar al Asqalani,
  •  Soal Jawab. Dalam buku ini ia banyak sekali beristidlal (beralasan) kepada hadits dan telah memperkenalkan sistem kritik hadits melalui sanad dan matannya.
  •  

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda